Malamang Tradisi Minangkabau untuk Menyambut Hari Besar Muslim

Sabtu, 04 Mei 2019 11:16 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Sudah jadi tradisi di Indonesia, sebelum bulan puasa, orang saling bermaaf-maafan. Di Padang, Sumatra Barat, tradisi ini tak lengkap tanpa malamang.

Malamang adalah tradisi Padang yang artinya membuat lamang. Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun sejak ratusan tahun lalu.

Biasanya dilakukan beberapa hari menjelang Ramadan tiba. Selain itu malamang juga biasa dilakukan untuk menyambut hari besar Muslim lainnya.

Lamang adalah penganan khas Sumatra Barat yang terbuat dari adonan beras ketan putih dan santan. Adonan ini dimasukkan ke dalam bambu beralas daun pisang, lalu dipanggang di atas bara api.

Masyarakat Sumatra umumnya juga mengenal penganan ini. Ada sebagian orang yang menyebutnya dengan lemang.

Sajian khas ini kemudian dibawa sebagai hantaran--biasanya ke rumah mertua. "Jadi lemang yang sudah dimasak, selanjutnya diantarkan ke rumah mertua sembari sambil minta maaf menjelang masuknya bulan puasa," ujar Nurleli, warga Belimbing, Padang yang masih setia membuat lamang hingga kini.

Proses malamang tidak lah mudah, pelik dan bisa memakan waktu nyaris seharian. Mungkin itu juga mengapa kini tak banyak orang yang masih menjalankan tradisi ini.

Kebanyakan menantu memilih untuk membeli lamang dari para orang tua yang masih membuatnya. Ada juga yang memilih lamang instan, kini banyak dijual di pasaran.

Proses pembuatan lamang dimulai dengan mempersiapkan bambu untuk wadah, kayu perapian. Belum lagi menyiapkan bahan lamang dan membakarnya hingga sore hari.

Tak heran jika tradisi malamang biasanya dilakukan secara gotong-royong. Ada yang mencari bambu, kayu bakar, dan mempersiapkan bahan lamang.

Buluah atau bambu dipotong dan dibersihkan luar dalam. Setelah itu daun pisang dilayukan dengan api kecil, baru dimasukkan ke dalam bambu.

Proses pembuatan lemang dimulai dari mencuci sipuluik atau beras ketan, kemudian dikeringkan, lalu dimasukkan ke dalam bambu sepanjang 60 sentimeter yang sebelumnya telah di beri alas daun pisang muda.

"Setelah itu di beri santan, garam dan vanila secukupnya kemudian di masak menggunakan kayu bakar," jelas Rosmawati, warga Kecamatan Pauh, Kota Padang, dikutip Kompas.

Proses pembakaran lamang butuh waktu lama. Karena, semakin lama lamang dijerang di atas api, akan semakin baik pula kualitasnya hingga tak mudah basi.

Untuk mematangkan lamang, Rosmawati butuh waktu sekitar lima jam. Ini karena menggunakan api kecil. Kalau pakai api besar memang bisa selesai dalam waktu tiga jam saja, tapi bambu akan cepat hitam.

"Yang sulit itu, mematok takaran santan dengan garam dan beras ketan pada satu ruas bambu itu, serta bagaimana api," lanjut Nurleli. Jika takarannya salah, lamang bisa jadi terlalu keras hingga berderai.

Lamang masa kini ada beragam jenis. Berikut beberapa di antaranya.

Lamang beras ketan. Paling populer, dibuat dari beras ketan putih atau beras ketan merah, biasanya dimakan dengan tape ketan hitam. Itu mengapa penganan ini biasa dikenal dengan lamang tapai.

Lamang pisang. Dibuat dari pisang masak yang dihancurkan dan dicampur dengan beras kentan serta santan dan garam. Rasanya gurih dan manis.

Lamang baluo. Terbuat dari beras ketan putih, di bagian tengah diberi inti yang disebut luo. Luo diisi gula aren dan kelapa parut yang dimasak.

Lamang ubi jalar. Sesuai namanya bahan standar lamang dicampur dengan ubi jalar rebus yang dihancurkan, bisa kuning, putih, atau merah. Bahan tepung beras juga dicampur gula aren, gula merah, dan santan sehingga rasanya legit.

Lamang labu kuning. Seperti lamang ubi jalar, bedanya ini menggunakan labu kuning.

Lamang ubi kayu. Dibuat dari singkong dicampur kelapa parut, tepung kanji, dan cairan gula merah.


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/4677-malamang-tradisi-minangkabau-untuk-menyambut-hari-besar-muslim.html