Kemenperin Dorong Pelaku Industri Busana Muslim untuk Rambah Pasar Internasional

Kamis, 02 Mei 2019 10:57 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong produsen busana muslim nasional untuk bersaing di kancah internasional. Sebab, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mencatat potensi di industri fesyen muslim cukup besar. Dia mencatat, meningkatnya jumlah umat muslim dunia menjadi salah satu faktor pertumbuhan industri tersebut. "Untuk itu, pasar ini harus diisi oleh industri fesyen muslim dari dalam negeri," ujarnya dalam siaran pers, Rabu (1/5).

Pada 2018, jumlah populasi umat Islam mencapai 24% dari total penduduk dunia. The State Global Islamic Economy melaporkan, konsumsi fesyen muslim dunia saat ini mencapai US$ 270 miliar atau setara Rp 3.830 triliun. Lembaga tersebut juga memproyeksi konsumsi busana muslim akan terus meningkat dengan laju pertumbuhan lima persen setiap tahunnya. Dengan begitu, konsumsi busana muslim dunia diperkirakan mencapai US$ 361 miliar pada 2023. Di Indonesia, konsumsi fesyen muslim diperkirakan mencapai US$ 20 miliar dengan laju pertumbuhan 18,2% per tahunnya. Data-data ini, Airlangga sampaikan ketika membuka Pameran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2019 di Jakarta, Rabu (1/5).

Sesuai data dari The State of Global Islamic Economy Report 2018/2019, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai negara yang mengembangkan fesyen muslim terbaik di dunia. Uni Emirat Arab yang menduduki peringkat pertama, berdasarkan laporan tersebut.

Menurut Airlangga, Indonesia berpeluang besar menguasai pasar busana muslim dunia. “Kami harus segera mendeklarasikan bahwa Indonesia siap menjadi pusat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Kami siap mengawal untuk mewujudkannya,” kata dia. Apalagi, fesyen muslim merupakan bagian dari sektor industri tekstil dan produk tesktil (TPT) yang berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Ekspor produk TPT nasional mencapai US$ 13,27 miliar pada 2018 atau tumbuh 5,4% dibanding tahun sebelumnya.

Pasar fesyen muslim terbesar adalah negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Potensi bisnis fesyen muslim di negara tersebut mencapai US$ 191 miliar. "Indonesia punya potensi untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara OKI,” ujarnya. Sebab, pertumbuhan industri TPT Indonesia meningkat dari 3,76% pada 2017 menjadi 8,73% di 2018. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menambahkan, instansinya melakukan berbagai kegiatan pengembangan industri fesyen muslim sepanjang 2018-2019. Kemenperin pun melibatkan 656 pelaku IKM fesyen dan 60 desainer. “Program pembinaan ini terintegrasi dari hulu sampai hilir,” katanya. Menurut Gati, industri fesyen muslim di Indonesia perlu didorong untuk menerapkan teknologi industri 4.0. Contohnya, penerapan sistem embos dengan teknologi laser berdasarkan perintah dari sistem komputer. Produsen juga bisa mengimplementasikan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk membuat pola, perencanaan produksi dan pengendalian material. Teknologi lain yang bisa dimanfaatkan adalah augmented reality (AR) dan advanced robotics untuk memotong bahan secara otomatis.

Selain itu, produsen busana muslim bisa mengadopsi internet of things (IoT). IoT ini disematkan di sensor Radio Frequency Identification (RFID) untuk memonitor semua proses produksi. Dengan menerapkan industri 4.0, Gati yakin dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas secara lebih efisien. Ia yakin, adopsi teknologi tidak mengurangi jumlah tenaga kerja. Gati mengklaim, produk fesyen muslim Indonesia diakui di pasar Kuwait, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Inggris dan Jepang.

(Sumber: katadata.com)


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/4664-kemenperin-dorong-pelaku-industri-busana-muslim-untuk-rambah-pasar-internas.html