Ahlul Badrito Resha, Sarjana Hukum Jadi Pengusaha Katering

Selasa, 30 April 2019 11:21 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Ahlul Badrito Resha masih ingat dengan jelas bagaimana kekecewaan orangtua dan gurunya ketika dia, yang lulus dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) 2011 lalu, memutuskan pulang kampung dan mencoba berbisnis.

"Karena dulu waktu kuliah dan SMA, prestasi saya di atas rata-rata. Asumsi keluarga dan guru, saya bisa bekerja di kementerian yang prestisius. Ketika saya putuskan pulang, mereka melihatnya sebagai pilihan yang menyedihkan," tutur Ahlul, Kamis (7/6/2018).

Ahlul mengaku sejak sebelum kuliah, memang tidak berminat mencari pekerjaan di Pulau Jawa. "Saya kuliah untuk belajar bagaimana kehidupan di luar, belajar tata cara sukses mereka dan kembali pulang."

Keinginannya untuk pulang disulut banyaknya kakak-kakak kelas yang pintar, tetapi enggan kembali ke Payakumbuh setelah kuliah karena minimnya peluang kerja. "Karena itu ada ruang kosong di Payakumbuh, kekurangan orang kreatif."

Melihat mulai ramainya bisnis kuliner di Payakumbuh, dia pun mendirikan kafe yang menyediakan makanan asing seperti burger, spaghetti, hingga mie ramen. Namun, usahanya ini tidak berjalan mulus.

"Setahun mencoba, ternyata (penghasilannya) cuma cukup untuk membayar cicilan motor. Jadi saya pikir ini bukan pilihan tepat."

Setelah mengikuti sebuah latihan kewirausahaan, Ahlul terinspirasi untuk membuka usaha kuliner "yang faktor pengali" atau jumlah makanan yang dijual, lebih banyak.

Dia pun melirik usaha katering untuk berbagai pesta, termasuk pernikahan.

"Karena di Payakumbuh itu pesta pernikahan dimulai dari pagi (pukul 11.00) sampai malam (pukul 21.00). Itu rata-rata butuh 500 sampai 2.000 porsi makanan. Ini faktor pengalinya lebih bagus, makanya saya beralih ke katering.

"Selain itu, katering ini sudah dipesan dari awal jumlah porsinya. Kalau kafe kemungkinan ada yang bersisa. Kalau katering tidak ada faktor sisanya," jelas Ahlul.

Langkahnya sebagai pengusaha katering dipermudah karena orang tuanya memiliki usaha tenda pelaminan.

Ahlul pun menjuat paket makanan dengan harga beragam. Paket Rp27.000 per porsi dengan dua lauk protein dan paket Rp17.000 per porsi dengan satu lauk protein.

"Rendang, kalio daging dan ayam bumbu adalah menu protein paling favorit."

Salah satu tujuannya berbisnis di kampung halaman pun terwujud: kateringnya menyerap tenaga kerja. Kini dia mempekerjakan empat orang koki dan sekitar 15 petugas lapangan.

Perlahan-lahan, Ahlul pun bisa menjawab keraguan keluarga dan guru, terkait pilihannya itu. "Dibandingkan awal-awal, sekarang pendapatan sudah naik 10 kali lipat."

Setiap bulannya Ahlul punya sekitar 10 proyek katering, dengan rata-rata 1.000 porsi per katering.

"Rata-rata penghasilan bersih itu Rp5 juta per acara". Alhasil, Ahlul bisa mengantongi penghasilan bersih hingga Rp50 juta per bulannya.

Meskipun tampak nikmat bergelut di dunia katering, lelaki ini mengaku masih memendam hasrat untuk menyalurkan pengetahuannya di bidang hukum, ilmu yang didalami selama empat tahun delapan bulan berkuliah.

"Karena saya dari SMA tertarik di bidang itu... Saat kuliah saya juga jadi Ketua BEM Fakultas Hukum UGM. Jangka panjangnya, saya ingin abdikan diri di bidang politik, jadi wakil rakyat di DPR, misalnya," pungkas Ahlul.


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/4656-ahlul-badrito-resha-sarjana-hukum-jadi-pengusaha-katering.html