Buah Pinang Menyambung Ekonomi Petani di Agam

Rabu, 18 Januari 2017 01:30 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Kendati tidak sepopuler tanaman sawit, budi daya pinang ternyata mampu menyambung ekonomi petani kecil di Kabupaten Agam, terutama di Kecamatan Lubuk Basung, Ampek Nagari, Palembayan, dan sekitarnya.

Menurut St. Saren, yang mengaku warga Kampuang Tangah, Kecamatan Lubuk Basung, harga pinang relatif menguntungkan ketimbang sawit. Ia mengatakan baru saja menjual pinang di Balai Salasa Kampuang Pinang dengan harga Rp12.000/kg. Namun tidak dijelaskan, berapa produksi pinangnya sebulan.

“Menjelang labaran kemarin, pinanglah yang menyelamatkan baju baru anak-anak. kala itu saya menjual 30 kg, dibeli pedagang lebih Rp500 ribu,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Kamus Nagari Sitanang, Djalius Djalin St. Marajo. Menurutnya, bila diperhatikan dengan seksama, tanaman pinang lebih menguntungkan dari komoditas lainnya, seperti kelapa, dan sawit. Namun kebanyakan petani tidak mau repot, karena proses pengolahan pinang sampai bisa dijual, agak rumit. Dipanen dari pohonnya, dikeringkan, dikupas, dikeringkan lagi, baru basa dijual.

“Padahal, harganya relatif stabil. Berapa pun tersedia, ditampung pedagang,” ujarnya.

Salah seorang pedagang di Pasar Balai Salasa, pada hari pekan Selasa (17/1/2016) mengakui, pinang merupakan komoditas dengan harga relatif stabil, dibandingkan komoditas lainnya. Harga kakao juga anjlok dari Rp32.000 menjadi Rp22.000/kg.

“Saya saat ini membeli pinang dengan harga Rp12.000/kg. Sedangkan pala untuk kualitas paling tinggi hanya Rp115.000 sampai Rp120.000, jauh jatuhnya dari harga sebelumnya, yang mencapai Rp180.000/kg,” ujar Ujang. (MIA)



Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/3936-buah-pinang-menyambung-ekonomi-petani-di-agam.html