Permintaan Ekspor Briket Tempurung Kelapa Indonesia Meningkat

Minggu, 15 Januari 2017 18:21 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Tingginya permintaan pasar luar negeri terhadap kebutuhan briket tempurung kelapa dan briket kayu asam dan kayu alaban asal Indonesia pada akhir tahun dan awal tahun, mendatangkan berkah tersendiri bagi eksportir energi terbarukan Indonesia. Namun, tidak semua industri pengolahan kelapa berbasis briket siap ekspor dari Indonesia mampu memenuhi kebutuhan tersebut.

Hal tersebut diungkapkan salah satu eksportir briket tempurung kelapa, briket kayu asam dan kayu alaban, platinum produksi Indonesia (PPI).

Menurut Direktur Platinum Produksi Indonesia (PPI) Mahmudi, saat ini demand tinggi namun supply turun.

“Ini dikarenakan memasuki musim hujan pada bulan Januari hiingga April. Banyak pabrik-pabrik tidak memiliki mesin pengering, sehingga kesulitan memproduksi briket tempurung kelapa dan kayu asam dan kayu alaban, mengingat pasokan dari pengepul masih berbentuk bahan baku mentah yang kadar kelembabannya tinggi,” ujarnya pada wartawan, Minggu (15/1/2017).

Selain briket tempurung kelapa, perusahaan ini juga mengekspor briket arang kayu sebanyak 10 hingga 12 kontainer perbulannya. Ada pun jenis pohon yang menjadi bahan baku adalah kayu asam dan kayu alaban.

Ia menambahkan, pihaknya justru tidak mengalami kesulitan memenuhi permintaan pasar luar negeri yang tinggi,

“Jelang akhir dan awal tahun pengiriman ekspor kami saat ini naik hingga 22 persen untuk wilayah Eropa dan Timur Tengah,” jelas Mahmudi.

Sebelum terjadi kenaikan permintaan pasar, perusahaan yang memiliki dua pabrik produksi dikawasan Cikunir, Bekasi, Jawa Barat ini rutin mengirimkan hingga 10 kontainer. Ada pun satu kontainer berisi sekitar 20 ton briket tempurung kelapa, briket kayu Asam dan kayu Alaban, walau pun porsi briket tempurung kelapa lebih besar.

Platinum Perkasa Indonesia (PPI) merupakan salah satu eksportir briket tempurung kelapa, briket kayu Asam dan kayu Alaban asal Indonesia yang agresif menembus pasar dunia. Beberapa waktu lalu, Investa Stellar Dana Kelola (ISDK) sebuah perusahaan Private Equity asal Indonesia dari Investa Grup menyuntikkan invetasi ke PPI, sehingga eksportir ini mampu meningkatkan kapasitas produksi dan perluasan pasar.

Saat dihubungi secara terpisah, Direktur Utama Investa Stellar Dana Kelola (ISDK) Jhon Veter mengungkapkan, pihaknya concern terhadap pemanfaatan sumber daya lokal.

“Sebagai penghasil kelapa terbesar kedua di Dunia setelah Filipina, kami melihat ini adalah potensi besar untuk menguasai pasar dunia dengan produk kelapa yang diproduksi didalam negeri. Dengan diolah disini, Indonesia akan mendapatkan added value dibandingkan hanya mengekspor buah kepala mentah,” ujarnya.

Ia menambahkan, tren energi dunia yang menuju energi baru terbarukan (EBT) menjadi peluang besar untuk mewarnai pasar tersebut. (kkc)


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/3927-permintaan-ekspor-briket-tempurung-kelapa-indonesia-meningkat.html