Pelaku Ekonomi Kreatif Bertumpu pada Kemudahan Akses Modal

Kamis, 17 November 2016 17:57 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Romanus Sumaryo dari subsektor periklanan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menyampaikan bahwa sektor padat modal yaitu pembelian media pada iklan televisi dengan kenaikan 10% tiap tahunnya. Biro iklan yang diperlukan kontrak dari awal tahun hingga akhir tahun.

“Tercatat di P3I terdapat 394 biro iklan, 1.200 perusahaan periklanan, 36.000 pekerja average revenue per company Rp108 miliar. Peran perbankan yang dibutuhkan subsektor periklanan yaitu modal untuk pembayaran awal pihak ketiga yaitu production house dalam membuat iklan,” ucap Romanus dalam panel simposium nasional ekonomi kreatif di Jakarta beberapa waktu lalu.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menggelar simposium nasional untuk para pelaku ekonomi kreatif dan perbankan di Jakarta Selasa (15/11/2016). Simposium nasional ini terbagi menjadi empat panel dan dihadiri oleh para pelaku ekonomi kreatif dari 16 sub sektor dan perbankan.

Panel pertama yaitu pelaku ekonomi kreatif dari subsektor film Odi Mulya, subsektor animasi dan video Fajar Anugerah, subsektor aplikasi dan game developer Muhamad Fajrin Rasyid serta Anton Soeharyo. Moderator yang menemani panel pertama yaitu Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Bekraf Muhammad Neil El Himam.

Odi Mulya mengatakan bahwa potensi pembiayaan dari perbankan untuk subsektor ekonomi kreatif sangat memungkinkan untuk diwujudkan.

Panel kedua perihal potensi bisnis disampaikan oleh Rahmat Ramadan dari subsektor fashion, Nilam Sari dari subsektor kuliner, Romanus Sumaryo dari subsektor periklanan dan Ikhwan Asrin dari subsektor kriya. Ikhwan Asrin dari subsektor kriya menyatakan bahwa kerajinan dibuat pengrajin melalui tangan serta bantuan alat. Moderator yang menemai yaitu Direktur Akses NonPerbankan Sugeng Santoso.

"Perbankan sudah membiayai semua. Tapi, ada tiga jenis pelaku ekonomi kreatif, antara lain feasible dan bankable, feasible tapi tidak bankable, serta pemula yang memiliki kreativitas tinggi tapi tidak ada modal,” ucap Ikhwan.

Ikhwan berharap, perbankan mempermudah pelaku ekonomi kreatif untuk mengakses sumber modal dengan syarat simple, yaitu pengembalian uang yang tepat.

“Tepat waktu, jumlah, dan tempat untuk pembayaran pinjaman dari bank adalah syarat yang kami harapkan dari bank untuk mengakses permodalan oleh pelaku ekonomi kreatif,” tegas Ikhwan.

Rahmat Ramadan dari subsektor fashion menyatakan, 7 % GDP berasal dari sektor ekonomi kreatif. Presiden mencanangkan tahun 2020, Indonesia sebagai pusat muslim dunia. Konsumen fashion Indonesia mencapai 84% yang memilih lokal brand. Fashion spending e-commerce rata-rata Rp 450.000 per bulan.

“Kami bisa meningkatkan kualitas dan hasil produksi kami melalui bantuan bank. Jadi, bank berperan besar pada bisnis fashion Indonesia,” ucap Rahmat.

Nilam Sari dari subsektor kuliner owner kebab turki Babarafi mengatakan, ia bukan hanya menjual produk, tapi juga melaksanakan franchise dan duplikasi sistem untuk mempercepat bisnis dan ekspansi export.

“Makanan bisa digunakan sebagai teknik diplomasi dunia. Kami mencari partner yang mau berbagi risiko sumber permodalan,” ucap Nilam.

Kebijakan tersendiri dari pemerintah dan bank dalam mendukung pelaku ekonomi kreatif Indonesia sangat diharapkan.

“Kami berharap pemerintah bisa mendukung penuh pelaku ekonomi kreatif dengan mengundang para pelaku ekonomi kreatif sebagai main keynote speaker pada acara yang menjadi center point of attraction untuk mempermudah brand Indonesia dikenal dunia," ujarnya.

Panel ketiga diisi oleh Ahmad Djuhara dari subsektor arsitek, Rosidayati Rozalina dari subsektor penerbitan, Anneke Adriyana dari subsektor desain interior, serta Emir Hakim dari subsektor desain komunikasi visual. Moderatornya, Kepala Biro hukum dan Komunikasi Publik Bekraf Mariaman Purba.

“Kita harus sering mengadakan pameran di dalam negeri, terutama pameran buku bertaraf internasional di Indonesia yang mempromosikan buku karangan penulis Indonesia,” ucap Rosidayati Rozalina.

Emir Hakim menyatakan bahwa subsektor desain komunikasi visual bisa meningkatkan value sebuah produk. Permodalan perbankan dibutuhkan untuk memiliki software membuat desain yang harganya juga tinggi.

Prospek keempat subsektor untuk diandalkan Indonesia di pasar internasional besar, karena keempat sub sektor tersebut. Perlu kerjasama perbankan untuk menjawab tantangan dan harapan ke depan.

Panel terakhir diisi Anton Siregar (BNI), Irnal Fiscallutifi (Otoritas Jasa Keuangan), Nina Kurnia Dewi (Jamkrindo), Okky Danuza (MAPPI). Direktur akses perbankan Bekraf Restog K. Kusuma menjadi moderator.

Acara simposium nasional ditutup oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Muliaman D. Hadad. Muliaman mengapresiasi kegiatan simposium sebagai upaya menjalin komunikasi pelaku ekonomi kreatif dengan perbankan.

“OJK bukan hanya akan turut mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka pintu kerja sama dengan Bekraf. Simposium ini penting dilakukan supaya bank mengenal bisnis ekonomi kreatif. Sehingga diharapkan akan terdapat kesepahaman antara industri ekonomi kreatif dan perbankan,” pungkas Muliaman. (kkc)



Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/3699-pelaku-ekonomi-kreatif-bertumpu-pada-kemudahan-akses-modal.html