Potensi Ekonomi Kreatif Indonesia Besar, tapi "Tenaga Kurang"

Kamis, 17 November 2016 17:19 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Dalam rangka mencari solusi kendala akses permodalan terhadapsektor industri ekonomi kreatif, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)menyelenggarakan simposium nasional "Membangun Komitmen Perbankan bagi Ekonomi Kreatif", Selasa (15/11/2016), di Hotel Pullman, Jakarta.

Sebanyak 300 undangan dari kalangan perbankan, pebisnis ekonomi kreatif, serta regulatorakan hadir untuk membangun komitmen bersama bagi kemajuan industri ekonomikreatif.

Kepala Bekraf Triawan Munaf berharap, melalui simposium akan tercipta "link" antara sumber modal dan parapebisnis ekonomi kreatif.

"Kami menginisiasi simposium ini untukmempertemukan pelaku ekonomi kreatif dengan para regulator dan pejabatperbankan nasional," kata Triawan.

Potensi Ekonomi Kreatif

Sampai kini, ekspor Indonesia masih bergantung dengan komoditas sumber daya alam seperti batubara, minyak kelapa sawit, karet, dan mineral. Belakangan, pertumbuhan ekonomiterganggu pada saat harga komoditas andalan tersebut menurun di pasar internasional.

Ekonomi kreatif merupakan sektor unggulan baruyang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. Ekonomi kreatif tak lain adalahtranformasi struktur perekonomian dunia di mana terjadi perubahan pertumbuhanekonomi dari berbasis sumber daya alam menjadi berbasis sumber daya manusia,dari era pertanian menjadi era industri serta informasi.

Penelitian Bank Indonesia yang bekerja sama dengan Bank Dunia, November 2015, dirilis Maret 2016, menyebutkan, sepanjang tahun 2010-2013, kontribusi industri kreatif terhadap produk domestik bruto (PDB) diperkirakan sebesar 7,1%. Terhadap keseluruhan nilai ekspor sebesar 6,1% dan terhadap penyerapan tenaga kerja sebesar 10,7%.

Pertumbuhan industri kreatif sebesar 5,6% dengan sektor kerajinan, fesyen, dan kuliner menduduki pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan sektor lainnya, yaitu: periklanan, arsitektur, pasar barang seni, desain, video-film-fotografi, permainan interaktif, musik, seni pertunjukan, penerbitan-percetakan, layanan komputer-piranti lunak, radio-televisi, dan riset-pengembangan.

"Secara lebih rinci, tahun 2013, terdapat 5,4 juta usaha kreatif yang menyerap 11,8 juta tenaga kerja. Ekonomi kreatif juga mampu menyumbangkan devisa negara melalui ekspor sebesar US$ 3,2 miliar atau sekitar 5,8%," kata Triawan Munaf.

Kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional, dijelaskannya sebesar 7.05 % atau Rp 641,81 triliun.

"Ekonomi kreatif menduduki perangkat ke tujuh dari 10 sektor kontributor PDB nasional. Lima kelompok industri kreatif yang menjadi penyumbang PDB terbesar adalah kuliner 32,51%, mode atau fesyen 28,29%, kerajinan 14,44%, penerbitan dan percetakan 8,11%, dan desain 3,90%," jelasnya lagi.

Bonus Demografi dan Kendala Permodalan

Potensi besar perkembangan sektor ekonomi kreatif juga ditopang oleh bonus demografi. Tahun 2030, jumlah penduduk usia produktif diperkirakan di atas 60% dari total penduduk di mana sekitar 27% di antaranya berusia 16 tahun – 30 tahun.

Akan tetapi, perkembangan bisnis sektor ekonomi kreatif rupanya masih menemui kendala, terutama akses permodalan.

Menurut Deputi II Bidang Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo, persoalan pembiayaan masih menjadi kendala lantaran mayoritas subsektor industri kreatif bersifat intangible atau tak terlihat.

Tiga subsector seperti fesyen, kuliner, dan kriya berbentuk fisik. Namun, 13 subsektor yang lain berbasis ide sehingga sulit bagi perbankan atau lembaga keuangan menentukan nilai dan menghitung jaminannya.

Katakanlah, subsektor aplikasi dan game. Perbankan masih kesulitan menghitung proyeksi dan tingkat kemampuan pengembalian pinjaman si penerima kredit.

“Kami menyadari, industri ekonomi kreatif bersifat intangible sehingga pelaku ekonomi kreatif perlu mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang perbankan nasional sebagai sumber permodalan. Sehingga, pelaku ekonomi kreatif perlu diberi wawasan dan pemahaman yang cukup mengenai skema bisnis yang dibiayai perbankan,” ungkap Fadjar.

Bahkan, di sektor kerajinan yang bentuk fisiknya terlihat pun, sektor permodalan masih merupakan kendala utama bagi pebisnis sektor ekonomi kreatif. Kesulitan lainnya, dalam hal pemasaran produk, keterampilan pekerja, dan sebagainya.

Bervisi membangun Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia di sektor ekonomi kreatif, Bekraf yang menaungi dan mengembangkan 16 subsektor ekonomi kreatif melalui beragam skema dan skala bisnis.

Pada simposium ini, Bekraf akan menyampaikan informasi bagi perbankan sehingga menemukan skema yang tepat dalam memberikan kredit ke pebisnis ekonomi kreatif. Bekraf juga mengedukasi pebisnis ekonomi kreatif agar mempu melakukan pendekatan usaha yang sesuai karakteristik masing-masing dalam rangka pengajuan sumber modal perbankan.

Direktur Akses Perbankan Restog. K. Kusuma menyampaikan, Bekraf berupaya menjembatani akses permodalan dari perbankan ke pelaku ekonomi kreatif.

“Kami mengundang para regulator perbankan, pejabat bank, dan pebisnis ekonomi kreatif untuk berdiskusi mengenai bisnis ekonomi kreatif dengan beragam seluk-beluk karakteristiknya,” ujar Restog.

Maka, tujuan yang ingin dicapai pada simposium ini antara lain, memberikan pemahaman yang komprehensif kepada perbankan nasional mengenai seluk beluk usaha ekonomi kreatif.

Simposium juga bertujuan membangun “link” pelaku ekonomi kreatif dengan perbankan nasional, membuka akses permodalan dari bank kepada pelaku ekonomi kreatif, serta menginisiasi harmonisasi peraturan perbankan dengan kebutuhan permodalan ekonomi kreatif.

Simposium akan diawali laporan kegiatan oleh Deputi II Bidang Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo. Kemudian, simposium akan dibuka Kepala Bekraf Triawan Munaf bersama Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setelah itu, acara dilanjutkan talk show yang menghadirkan narasumber masing-masing dari 16 subsektor ekonomi kreatif, Bank Negara Indonesia, OJK, Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).

Para narasumber pebisnis 16 subsektor ekonomi kreatif tersebut antara lain dari subsektor film Odi Mulya, subsektor animasi dan video Ardian Elkana, serta subsektor aplikasi dan game developer Muhamad Fajrin Rasyid dan Anton Soeharyo.

Subsektor yang lain, hadir Rahmat Ramadan dari subsektor fashion, Nilam Sari subsektor kuliner, Romanus Sumaryo subsektor periklanan, dan Ikhwan Asrin dari subsektor kriya. Ada pula Ahmad Djuhara dari subsektor arsitektur, Rosidayati Rozalina subsektor penerbitan, Eko Priharseno subsektor desain interior, serta Emir Hakim dari subsektor desain komunikasi visual. (kkc)


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/3698-potensi-ekonomi-kreatif-indonesia-besar-tapi-tenaga-kurang.html