Sociopreneur: Harapan di Masa Depan

Senin, 21 Maret 2016 08:04 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - OLEH Fajar Anugerah (Program Manager at Global Entrepreneurship Program Indonesia)

Mungkin Anda bingung menemukan sebuah istilah baru yang belakangan mulaitren di media, sociopreneur atau social entrepreneur. Bagaimana kombinasi antara social dan entrepreneur itu? Apakah pengusaha yang berjiwa sosial atau aktivis sosial yang jadi pengusaha?

Sebenarnya, social entrepreneur itu memang semacam ‘mahluk hybrid’. Wirausaha sosial atau social enterprise/entrepreneur umumnya merujuk pada orang/organisasi/lembaga yang memiliki tujuan sosial/lingkungan hidup yang jelas, menggunakan kegiatan ekonomi/usaha untuk mencapai tujuannya (sebagian besar pendapatannya digunakan untuk mencapai tujuan tersebut).

Di Eropa, wirausaha sosial yang dianggap terbaik adalah yang dikelola secara demokratis (pengambilan keputusan melibatkan berbagai pemangku kepentingan) untuk memastikan akuntabilitasnya. Jadi fokusnya lebih kepada organisasinya (enterprise) dan bukan pelakunya (entrepreneur).

Gerakan kewirausahaan sosial itu sudah jadi fenomena global. Saya pertama kali semangat mempelajari wirausaha sosial ketika tahu bahwa Barcelona FC dan Bayern Munchen dikelola sebagai social enterprise (bentuknya koperasi!) dan memiliki tujuan sosial yang kuat. Jadi bukan hanya prestasi mereka yang luar biasa sebagai klub yang punya sejarah prestasi segudang, ternyata mereka juga dikelola untuk kepentingan anggota koperasi mereka (fans) yang merupakan mayoritas pemilik sahamnya.

Sejak saat itu, saya berpikir bahwa mungkin kewirausahaan sosial adalah salah satu alternatif solusi bagi beberapa masalah besar di Indonesia. Coba bayangkan bagaimana kalau klub sepakbola di Indonesia berstruktur koperasi fans? Tapi apakah sebenarnya wirausaha sosial yang katanya fenomena global ini dapat cocok dan berkembang di Indonesia?

Indonesia sebenarnya punya sejarah panjang aktivitas social enterprise. Bahkan sebelum kemerdekaan, banyak organisasi dan kegiatan yang bisa dikategorikan sebagai social enterprise. Serikat Dagang Islam, Sekolah Kartini, Taman Siswa, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama dikatakan mewakili social enterprise/wirausaha sosial yang dirintis pada periode 1895-1945.

Saya sepakat bila organisasi-organisasi tersebut dikatakan sebagai pionir kewirausahaaan sosial di Indonesia, karena mereka didirikan dengan tujuan sosial yang kuat (pendidikan, kesejahteraan masyarakat, ) dan mendanai kegiatan sosialnya lewat kegiatan ekonomi/usaha yang serius.

Pasti tidak banyak yang tahu bahwa ternyata wirausaha sosial di Indonesia memiliki andil yang tidak kecil dalam mempersiapkan bangsa Indonesia untuk merdeka. Jadi bisa dikatakan bahwa wirausaha sosial adalah sebenarnya sesuatu yang ‘Indonesia Banget’.

Sampai saat ini pun sebenarnya wirausaha sosial masih berkembang di Indonesia. Salah satu contoh yang saya kagumi adalah Perkumpulan Telapak. Mereka merupakan perkumpulan aktivis lingkungan hidup yang mendirikan Koperasi Hutan Jaya Lestari (KHJL) di Konawe Selatan.

Awalnya Telapak berjuang untuk mengatasi pembalakan liar melalui advokasi dan investigasi secara konvensional. Merasa kurang efektif, melalui KHJL, mereka adopsi teknik penebangan lestari yang disertifikasi oleh lembaga internasional.

Melalui sertifikasi tersebut, harga kayu meningkat drastis dan mempengaruhi kesejahteraan para anggotanya. Sekarang, anggota KHJL secara sadar menjaga dan mengelola hutan mereka. Pola pengelolaan hutan lestari ini sekarang direplikasi di Jawa Tengah, Sumatera, Kalimantan dan Papua.

Selain itu, Telapak juga memiliki berbagai inisiatif wirausaha sosial lain, seperti stasiun televisI dan radio. Bahkan juga mengembangkan wisata berbasis budaya dan ekologi. Stasiun televisi dan radio awalnya didirikan untuk advokasi isu sosial dan lingkungan hidup, sekarang berkembang menjadi perusahaanTVv dan radio daerah. Sedangkan usaha ekowisata dan wisata budaya, dikembangkan untuk tumbuhkan ekonomi berbasis masyarakat namun tetap berkontribusi pada pelestarian budaya tradisional dan lingkungan hidup.

Sekarang, informasi tentang gerakan kewirausahaan sosial di Indonesia sangat mudah ditemukan. Berbagai organisasi di Indonesiaseperti Ashoka Indonesia Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia (AKSI) dan British Council Indonesia dapat dijadikan rujukan. Masing-masing memiliki program yang bagus untuk mendukung kewirausahaan sosial di Indonesia di berbagai kalangan (anak muda, masyarakat pedesaan, sekolah islam, dan sebagainya.

Bahkan pihak korporasi dan BUMN juga mulai mengembangkan inisiatif mendukung wirausaha sosial sebagai bagian dari program CSR mereka. Salah satu contohnya adalah Bank Mandiri dengan program Mandiri Bersama Mandiri-nya, sebuah upaya untuk mencari dan mendukung wirausaha sosial di berbagai penjuru Indonesia.

Melalui perkembangan wirausaha sosial di Indonesia yang cerah, maka timbul keyakinan bahwa ini merupakan alternatif yang bagus dan efektif, bukan hanya untuk atasi masalah-masalah yang kita hadapi tapi juga optimalkan potensi Indonesia, tanpa terlalu bergantung pada donatur. Semoga Anda setuju dan tidak berhenti hanya di situ. Mari mulai cari tahu informasi lebih banyak tentang kewirausahaan sosial bagaimana kita bisa mendukung mereka!


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/2492-sociopreneur-harapan-di-masa-depan.html