"Datuk Siloengkang Coffee": Sajian Lokal, Rasa Global

Jumat, 22 Januari 2016 10:37 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Kopi memiliki sejarah panjang bagi rakyat di Nusantara ini. Kopi seperti menyandang beban sejarah dan kultural sebagai bangsa yang pernah berabad-abad dijajah Belanda. Untuk itu, mungkin kopi punya makna yang kental. Nyaris semua penjuru Tanah Air punya kenangan kolektif tentang kopi.

Kini, modernisasi menuntut kopi jadi salah satu minuman yang melekat pada gaya hidup warga urban perkotaan. Beragam jenis kopi. Di kampung-kampung, harga kopi jenis yang sama dengan disajikan di kafe-kafe bisa bak bumi dan langit. Mencengangkan. Entah apa hebatnya kopi di kafe-kafe kota itu.

Kendati begitu, di Nagari Silungkang, Kota Saswahlunto, ada kafe kopi namanya"Datuk Siloengkang Coffee". Kafe atau lapau kopi ini memang tak sementereng kafe di kota-kota  dengan sentuhan wangi dan penyejuk di bawah 20 derajat. Ini kafe di sebuah kampung.

Lapau "Datuk Siloengkang Coffee" menawarkan cita rasa kopi berkualitas tinggi melalui produk-produknya.

Pemilik sekaligus pengelola warung yang berpusat di kawasan jalan Lintas Sumatera Solok-Sijunjung tersebut, Dasril Munir di Sawahlunto, mengatakan, keunggulan kopi yang mereka hadirkan itu diperoleh dari tata cara mengolah biji kopi pilihan secara tradisional yang diwarisi dari orang tuanya dan usaha tersebut sudah ia geluti sejak 1992.

Olahan Tradisional

"Kami menggunakan biji kopi kering lokal jenis Robusta, biji kopi tersebut kami olah dengan sangrai tanpa minyak hingga mencapai tingkat kerapuhan tertentu," kata dia seperti dilansir kontancom.

Dalam proses menyangrai tersebut, jelasnya, yang perlu diperhatikan adalah tingkat panas yang dihasilkan oleh tungku berbahan bakar kayu api yang sudah bersih dan bebas dari tumbuhan atau zat yang dapat merubah rasa kopi yang sedang diolah, seperti jamur, cat dan lain sebagainya.
Setelah rapuh, lanjutnya, biji kopi tersebut ditumbuk hingga halus sampai berbentuk bubuk, setelah memisahkan biji kopi yang rusak dan busuk, hal itu penting dilakukan guna menjaga citarasa kopi yang dihasilkan tidak pahit dan memiliki aroma yang wangi khas bubuk kopi pilihan.

"Kopi dikenal sangat sensitif terhadap bau dan hawa panas, untuk menghasilkan bubuk kopi berkualitas memang dibutuhkan ketelatenan dan kehati-hatian agar rasa atau aroma kopi tidak tercampur atau merubah struktur zat kafein yang terkandung di dalam bijinya," terangnya.

Dengan begitu, tambahnya, ketika bubuk kopi tersebut diolah menjadi minuman maka cita rasa yang dihasilkan semakin nikmat, karena kesempurnaan minuman berbahan kopi salah satunya tergantung dari tingginya kandungan kafein yang dihasilkan.

"Dengan kata lain semakin tinggi kadar kafein dalam kopi maka rasanya akan semakin nikmat saat dikonsumsi," ujar dia.

Terkait perkembangan usaha yang ditekuninya itu, dia mengatakan saat ini dalam sebulan pihaknya mampu menyerap hasil panen biji kopi masyarakat hingga 100 kilogram.

Hal itu disebabkan oleh usaha yang ia jalani sekarang dengan merek dagang "Datuk Siloengkang Coffee" masih tergolong baru, sebelumnya ia mengaku sempat menyerap hasil panen masyarakat hingga satu ton lebih per bulan.

"Kala itu kami menggunakan merek dagang Kopi Cap Mangkuak, namun karena ada kendala pemasaran dan tata kelola usaha, akhirnya mengalami kegagalan dalam melakukan penetrasi pasar," ungkap dia.

Berdasarkan pengalaman tersebut, saat ini pihaknya mencoba untuk kembali mengembangkan usaha warung kopi sekaligus memproduksi bubuk kopi pilihan untuk dilempar di pasaran dengan harga mencapai Rp80 ribu per kilogram.

Harga tersebut diakui memang lebih tinggi dari harga produk kopi tradisional lainnya, yakni berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram, namun pihaknya meyakini produksi kopi mereka mampu bersaing di pasaran dengan segala keunggulan yang mereka tawarkan itu.

"Saat ini produksi bubuk kopi kami sudah hadir di beberapa supermarket ternama di Ibukota Jakarta, kami juga merencanakan untuk membuka outlet-outlet warung kopi "Datuk Silungkang Coffee" di beberapa kawasan strategis seperti Bandara, Pelabuhan serta pusat-pusat perbelanjaan perkotaan," kata dia.

Sejak Tahun 1954

Bermula pada tahun 1954, seorang warga Silungkang yang bernama Munir Sutan Mudo, memulai usaha kopi bubuk dengan merek Cap Teko. Perusahaan tersebut berkembang dengan baik hingga pada tahun 1990 ia meninggal.

Selanjutnya usaha ini dilanjutkan oleh anak beliau Dasril Munir Rajo Mudo bersama adiknya Yusri Munir dengan produk kopi bubuk bermerek Cap Mangkuak.

“Pada tahun 2012, bergabung Syamsir Munir (ikon produk Datuk Silungkang Coffee) dan Suhardi Munir beserta dukungan programmer kami Asri Munir bersepakat untuk meluncurkan brand Kopi Datuk untuk dapat dinikmati oleh seluruh penikmat kopi di seluruh penjuru dunia,” kata Dasril Munir.

Datuk Silungkang Coffee merupakan perusahaan keluarga yang memproduksi kopi bubuk murni yang diolah secara tradisional dengan bumbu rempah-rempah alami dan tanpa tambahan bahan pengawet, penguat rasa dan penguat aroma lainnya. Aroma kopi murni akan Anda rasakan saat Anda menyeduhnya.

Bagi para pecinta minuman berbahan kopi tradisional dengan kualitas terbaik, pihaknya juga melayani pesanan melalui nomor telepon 0812-6669-0122 dan 0812-6609-565, atau peminat bisa datang langsung ke Warung Kopi Datuk Silungkang Coffee di Jalan Lintas Sumatera ruas Solok-Sijunjung, Dusun Lubuak Nan Gadang Desa Silungkang Tigo, Kota Sawahlunto. (kkc)



Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/2156-datuk-siloengkang-coffee-sajian-lokal-rasa-global.html