ICF 2014: Sejak dari Sangrai hingga Meracik Kopi Kelas Dunia

Senin, 13 Oktober 2014 04:22 WIB

Jakarta, Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Indonesia Coffee Festival (ICF) 2014, festival kopi bergengsi kembali digelar pada 17-19 Oktober 2014 mendatang di Inna Grand Bali, Sanur -Bali.

Dalam ICF 2014, salah satu kegiatan tak kalah menariknya adalah “Bali Roasting Class”. Kegiatan ini bertujuan untuk mendidik calon-calon tukang sangrai kopi (roasters) yang mengikuti kaidah keinginan peminum kopi di seluruh dunia dari tingkat kematangan, tekstur dan juga karakteristik dari masing-masing kopi yang akan disangrai.

“Ini akan sangat menarik karena dimanapun diseluruh dunia  yang  mempunyai konsumen peminum dan penikmat kopi, Roasting quality dari biji yang di sangrai (Roasted Beans) menjadi faktor penentu dalam industri hilir perkopian,” kata A. Syafrudin, Head Steering Committee Specialty Coffee Auction ICF 2014 di Jakarta, Minggu (12/10/2014) malam seperti dilansir bisniswisata.com.

Syafrudin menjelaskan, yang disajikan dalam ICF Roasting Class nanti adalah pemberian materi, praktek Roasting (Sangrai) dan Cupping. Hal tersebut dilakukan berulang-ulang selama tiga hari dengan bermacam macam biji kopi yang di praktekkan secara interaktif.

“Dengan demikan akan terjadi transformasi ilmu dari pengajar (Dr. Jake Hu, Roaster Master kaliber Dunia  dari Taiwan). Peserta hanya dibatasi maksimal 25 orang untuk menjaga kenyamanan dari kelas yang akan diadakan. Peserta terbuka untuk umum, saat ini sudah terdaftar 20 orang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan ada yang dari Timor Timur dan dari Dubai,” terangnya.

Syafrudin optimis kegiatan ini akan membawa kopi Indonesia lebih dikenal secara komersial ke mancanegara dan juga penetrasi konsumsi kopi dalam negeri lebih besar lagi.

Diikuti Barista Profesional

ICF 2014 juga menggelar Barista Championship (lomba meracik kopi), yang menarik dari perlombaan ini  bagaimana peserta/barista dengan waktu yang sudah ditentukan membuat dan menyajikan kopi yang terbaik kepada juri, dengan disertai penjelasan mengenai kopi dan rasa dari minuman tersebut.

Tuti Mochtar¸ Member dari Steering Committee ICF 2014 menjelaskan, kegiatan ICF Barista Championship mengacu pada WBC (World Barista Championship), yaitu dalam waktu 15 menit seorang peserta/barista harus bisa membuat dan menyajikan 4 cup espresso, 4 cup cappuccino, dan 4 cup signature drink kreasi peserta kepada 4 Sensory Judges (juri). Pada saat membuat, secara teknik akan dinilai oleh 2 teknikal juri. Juri ini juga akan diawasi oleh Head Judge (kepala juri).

“Peserta lomba tidak hanya barista dari Indonesia, tetapi juara-juara barista dari Malaysia, Myanmar, Philippine, dan Thailand. Target peserta hanya 20 peserta barista saja, dan peserta asing saat ini yang sudah terdaftar sebanyak 6 barista. Mereka yang bertanding adalah barista profesional,” ujar ahli kopi ini yang kesehariannya sebagai Dirut PT. Santino.

Tuti menjelaskan level barista Indonesia saat ini sudah sangat meningkat, jauh lebih baik dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Secara teknik dan pengetahuan tentang kopi, level barista Indonesia sudah sejajar bahkan ada diatas barista negara-negara Asean.

“Sampai saat ini, hanya beberapa sekolah tinggi pariwisata yang memasukkan kurikulum tentang kopi, padahal profesi barista akan meningkat dan menjadi profesi yang menjanjikan seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan konsumsi kopi di Indonesia,” jelas Tuti.

Kegiatan ICF 2014 kali ini didukung oleh Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Komunitas Kopi Speciality Indonesia, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Asosiasi Kopi Luwak Indonesia, ASEAN Secretariat, MarkPlus Inc., Walikota Denpasar, Yayasan Sanur, dan Bali Tourism Board. (wk/kc)


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/1125-icf-2014-sejak-dari-sangrai-hingga-meracik-kopi-kelas-dunia.html