Destinasi Pariwisata Halal Sumbar Tak Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Senin, 13 Maret 2017 07:42 WIB

Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) - Kunjungan wisatawan mancanegara dari Timur Tengah ke Sumatera Barat dari data 2016, hanya 0,01 persen dari total 47 ribu wisatawan. Setengah dari jumlah itu, didominiasi wisatawan dari Malaysia.

"Tidak ada kaitan wisata halal dengan kunjungan wisatawan dari Timur Tengah (Timteng) yang hanya 0,01 persen saja," kata Sari Lenggogeni, Direktur Pusat Kajian Pariwisata Unand Padang, dalam diskusi bertema "Sumbar sebagai Tujuan Wisata Halal Dunia dan Raihan Kunjungan Wisatawan" di Kantor DPP IKA Unand di Padang, Minggu (12/3/2017).

Untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat terhadap pariwisata halal ini, yang 2015 lalu dideklarasilkan Sumbar sebagai destinasi pariwisata halal, Sari bersama timnya melakukan penelitian sejauh mana masyarakat memahami wisata halal itu.

"Dari 600 responden ditanya deskripsi soal wisata Sumbar, hanya 5 persen menjawab wisata halal, 50 persen lebih responden mendeskripsikan wisata Sumbar sebagai wisata alam," urai Sari yang menyelesaikan doktornya di Australia ini.

Sari Lenggogeni melakukan penelitian selama dua tahun dari 600 lebih responden ternyara wisatawan domestik ke Sumbar 60 persen tanpa menggunakan tour and travel agent.
"Artinya apa, jangan lihat halal itu destinasinya, jadi wisata halal itu lihat dari industrial wisata," ujarnya.

Sari juga menilai pariwisata itu punya multiplayer efect, tapi kalau suatu destinasi ramai jangan bangga dulu Sumbar. "Apakah itu wisatawan atau orang Sumbar sendiri, wisatawan itu orang di luar Sumbar, tidak orang dalam Sumbar," terang Uni Sumbar 2001 ini.

Pariwisata maju berdampak ekonomi harus dikelola secara komprehensif. Menurut Sari yang diuntungkan atas hebatnya dunia pariwisata banyak sektor, tour and travel, PHRI, PAD dan ekonomi maayarakat di daerah destinasi wisata.

Selain itu, strategi pasar pariwisata pemerintah juga belum terlihat, justru anggaran besar di APBD pasar wisata cenderung local minded tidak pasar ke dunia.

"Padahal dana sebesar itu bisa untuk startegi pasar ke dunia internasional loh," ujar Sari.

Menurutnya, destinasi menarik masstourism baru dua daerah yang bisa yakni Padang, karena punya infrastruktur memadai, lalu Bukittinggi, daerah lain baru sebagai suporting.

Dari pengamatannya, ketika destinasi dikelola pemerintah justru kondisinya jauh dari fasilitas destinasi dikelola swasta. "Toilet di lokasi jelek, itu sepele tapi efek bullynya luar biasa loh," ujarnya.

Sementara Sempurna Bahri, peserta diskusi menekankan Sumbar dalam menggarap pariwisata jangan abu-abu lagi, harus jelas apa fokus pariwisatanya.

"Pendidikan, rumah sakit, konvensi atau apa, tapi ini harus digreat menjadi industri, posisi pemerintah hanya fasilitasi," ujarnya. (kkc)


Berita ini dicetak dari: Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)
http://kinciakincia.com/berita/4117-destinasi-pariwisata-halal-sumbar-tak-pengaruhi-kunjungan-wisatawan.html