Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)

Kamis, 21 April 2016 07:48 WIB
Martabak legendaris Thien-Thien Lay, ikon kuliner Kota Semarang
Martabak legendaris Thien-Thien Lay, ikon kuliner Kota Semarang
Kinciakincia.com - Variasi kuliner martabak-martabak kekinian tampaknya tidak membikin goyang atau oleng penggemar martabak yang satu ini. Dalam usianya yang sudah mencapai 35 tahun membuat pelanggannya semakin stabil dan ramai.

Malah kini, dalam usia yang makin dewasa, martabak ini menjadi legendaris di Kota Semarang, Jawa Tengah.  Penggemarnya dari berbagai usia, orang tua. remaja, dan hingga anak-anak.
 
“Ini termasuk yang tertua, legendaris lah di Semarang. Saya sendiri dari 1994 langganan keluarga,” ujar Suyanto warga Ngaliyan Semarang, saat membeli Martabak Thien-thien Lay, seperti dilansir KompasTravel, Senin, 21 April 2016.
 
Martabak Thien-thien Lay, dibuka oleh ayah dari Kit Kie, sang pemilik saat ini. Ayahnya memulai usaha martabak sejak tahun 1981. Saat itu masih berpindah-pindah pertama di Jalan Gajah Mada, tahun 1994 di Jalan Suyudi, dan 2012 sampai sekarang di Jalan Thamrin, Semarang.
 
Kit Kie mengatakan martabaknya menggunakan resep martabak Bangka, karena keluarganya merupakan asli warga Bangka yang merantau ke Semarang pada tahun 1980-an. Ia mengakui tak ada yang istimewa dari bahan dan adonannya selama ini. Berbahan dasar tepung hingga toping yang sama.
 
“Kuncinya bisa bertahan dari tahun 81 itu cara memasaknya, adonan yang selalu fresh, dan pengalaman menjaga suhu api saat memasak,” ujar Kit Kie.

Kedai martabak Tien-tien Lay yang berlokasi di Jalan Thamrin, ramai pembeli selain di akhir pekan juga di hari-hari kerja. Pelanggan mayoritas keluarga yang turun-temurun menjdai pelanggannya sejak tahun 90an.

Ia menambahkan faktor yang saat berpengaruh terhadap tekstur dan kualitas martabak ialah saat memasaknya. Menjaga api dalam suhu yang tepat, memutar-mutar agar apinya merata, lamanya memanggang adonan dan menutupnya menjadi kunci yang ia pegang hingga kini.

Kit Kie mengaku belajar hal tersebut dari ayahnya, dan pengalamannya puluhan tahun membuat martabak manis.
 
Karena itulah, ia memutuskan untuk tidak membuka cabang. Kit Kie khawatir kualitasnya akan menurun, karena kuncinya bukan soal bahan yang bisa dikirim, tapi keahlian yang diasah.
Meski martabak Thien-thien Lay ini domian menawarkan topping klasik, seperti cokelat, kacang, dan keju, tapi justru hidangan itulah yang paling dicari.
 
“Kita juga memfasilitasi jika pembeli ingin menambah topping kekinian seperti Oreo, Ovomaltin, dan Toblerone. Namun, hanya sebatas kemampuan kita, tidak bisa yang aneh-aneh,” ujarnya.
 
Menurutnya topping kekinian akan cepat berganti-ganti jenisnya, selain itu hanya digandrungi oleh konsumen pemuda. Sedangkan martabaknya ini dinikmati oleh berbagai kalangan, dari orang tua hingga yang mengajak anaknya.
 
Dari pantauan KompasTravel saat berkunjung ke Kedai Kue Bandung Thien-thien Lay, Senin (11/4/2015), barisan kursi tunggu terisi oleh orang tua berambut agak putih, orang tua keluaraga muda, anak muda, hingga anak-anak kecil bersama orangtuanya.
 
Kit Kie menjelaskan menurut pengalamannya, pelanggan tetap martabak itu berasal dari rekomendasi keluarganya. Jika ibunya pelanggan, maka anaknya kemungkinan besar akan jadi pelanggan. Pemandangan tersebut menurutnya akan terlihat saat hari-hari besar, seperti lebaran, natal, dan libur panjang.
 
Saat hari besar dan libur panjang peminatnya dapat menghabiskan hingga 100 loyang hanya dalam waktu enam jam, dari pukul 17.00 – 22.00 WIB. Sedangkan di hari kerja terjual rata-rata 60 loyang.
 
Martabak Klasik yang dijual di kedai Thien-thien lay ini menjadi favorit pelanggan sejak tahun 1981 di Semarang. Adonan yang empuk di tengah renyah dipinggir dan awet, juga toping yang berlapis-lapis merupakan salah satu keunggulannya.

Adonan yang Fresh
 
Sedikit lama menunggu merupakan hal yang wajar ketika membeli martabak Thien-thien Lay. Jelas saja, karena Kit Kie hanya membuat campuran adonan untuk tiap 12 loyang. Sehingga jika pembeli ke 13 datang, harus menunggu adonan yang dibuat langsung di kedai menggunakan mesin pengaduk.
 
Cara tersebut, menurut Kit Kie efektif untuk menjaga kesegaran adonan. Hasilnya martabak lebih empuk, dan tahan lama. Dia mengklaim tekstur martabaknya masih fresh 60 persen meski didiamkan 24 jam.
 
“Garansi dari kami sebenarnya hanya 24 jam, tapi ternyata banyak pelanggan kami yang mencoba ke Belanda, Jerman dan Amerika dan hasilnya baik-baik saja,” ujar Kit Kie.
 
“Rasanya enak kalau buat besok pagi juga tetep enak. Saya sering pake buat bekal anak sekolah,” ujar Suyanto, salah satu pembeli, kepada KompasTravel.
 
Martabak klasik tersebut memang terasa empuk saat KompasTravel mencobanya. Ketebalannya yang pas membuat penikmatnya tidak merasa “enek”. Topping susu, kacang, meses cokelat, dan keju ditabur berlapis-lapis, untuk memperkaya rasa.
 
Jika penasaran dengan kualitasnya cobalah berkunjung ke Jalan Thamrin nomor 67, terdapat gerobak besar bertuliskan Thien-thien Lay yang berartikan “setiap hari datang”.
 
Harganya bervariasi mulai dari Rp 60.000 rasa klasik, hingga Rp 135.000 rasa spesial. Namun harga tersebut untuk satu loyang berdiameter 40 centimeter. Pembeli dapat memilih untuk membeli setengahnya dengan harga separuh. (kkc)



Kirim ke Teman jumlah akses: 1.659 kali Model Cetak  Jadikan PDF

Berita Terkait

Minggu, 17 April 2016

Makanan Olahan dari Rinuak Tak Ada Duanya di Dunia

Rinuak ternyata satu-satu jenis ikan yang hidup di Dana Maninjau Agam. Jenis ikan kecil yang lebih kecil dari teri merupakan kekayaan alam Tanjung Raya, Kabupaten Agam, yang tiada duanya di dunia.“Saya juga baru mengetahui, kalau rinuak jenis ikan terkecil dan hanya ada di Danau Maninjau,” ujar Y. St. Sarialam, pemuka masyarakat Kecamatan Tanjung Raya, Sabtu (16/4/2016).Selama .....
Rabu, 13 April 2016

100 Juru Masak Kapal Perang Peserta Komodo 2016 Memasak Randang Tuna

Lebih kurang seratus juru masak kapal perang angkatan laut (AL) dari 36 negara-negara peserta Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 ikut terlibat langsung memasak randang berbahan ikan tuna di Pantai Puruih, Padang, Rabu, 13 April 2016. Pemerintah Kota Padang menyediakan 100 lebih tungku untuk memasak kuliner khas Minang yang sudah mendunia ini. Biasanya randang berbahan daging sa.....
Rabu, 06 April 2016

Festival Kuliner Nusantara Digelar, Kontribusi Bruto Kuliner Rp208,6 Triliun

Menteri Pariwisata Arief Yahya telah meluncurkan Festival Kuliner Nusantara, pekan lalu. Festival kali bertema “Kuliner Nusantara Kekayaan Budaya Bangsa”. Kontribusi nilai tambah bruto sektor kuliner sebesar 208,6 triliun pada tahun 2015.Sudah dijadwalkan, Festival Kuliner Nusantara dilaksanakan pada 14 – 16 April  2016 di Mall Artha Gading Jakarta. "Festival Kuliner Nus.....
Selasa, 05 April 2016

Randang Jadi Incaran Peserta Komodo 2016

Perwira tinggi salah satu negara peserta Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2016 kepincut dengan makanan khas Minang. Randang yang rasanya cukup "nendang" itu ditanyakan perwira tinggi tersebut kepada Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI, Ade Supandi.“Ada perwira tinggi yang tanyakan randang dan dirinya kepincut ingin mencoba rendang hasil racikan masyarakat asli Sumat.....
Jumat, 18 Maret 2016

Usaha Kuliner dari Semur Sapi sampai Rendang Jengkol

Bisnis kuliner masih terbuka lebar, termasuk makanan khas Nusantara. Beragam inovasi dilakukan agar makanan dan masakan tradisi Nusantara bisa dinikmati tanpa menunggu lama. Kini, di Bogor telah muncul masakan khas Nusantara yang diolah secara kreatif dalam kemasan cepat saji.Adalah Nova Aditya Pambudi, seorang pengusaha makanan siap saji asal Bogor, Jawa Barat, membuat terobosan b.....

Kirim Informasi Untuk Teman



 


Pasang Iklan Anda
  Jual Beli
1 gr 660.000 545.000
2 gr 1.220.000 1.090.000
2,5 gr 1.500.000 1.362.500
3 gr 1.780.000 1.635.000
4 gr 2.340.00 2.180.000
5 gr 2.935.000 2.725.000
Update Tgl: 00-00-0000 pukul 00:00
Mata Uang Beli Jual
USD 13.325,00 13.350,00
EUR 15.740,00 15.790,00
SGD 9.780,00 9.825,00
JPY 121,85 122,35
AUD 10.580,00 10.625,00
Update Tgl: 22-08-2017 pukul 08:14