Kinciakincia.com, Media Online Ekonomi dan Promosi Bisnis - UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah)

Sabtu, 27 Februari 2016 02:11 WIB
KULINER KHAS KOTA PADANG
Mira dan keluarganya di tempat dagangannya yang menggunakan becak motor (foto kinciakincia)
Mira dan keluarganya di tempat dagangannya yang menggunakan becak motor (foto kinciakincia)
Kinciakincia.com - Belum ditemukan referensi yang meyakinkan, apakah penganan lompong sagu itu merupakan makanan khas masyarakat Kota Padang. Sejauh ini, lompong sagu masih dijumpai sepanjang
Jalan Ampang dan  sebagian By Pass di Kota Padang.

Di kota-kota lainnya di Sumatera Barat, makanan yang diturunkan dari generasi ke generasi ini, tak ditemukan. Makanya, ada yang mengklaim, lompong sagu adalah makanan khas Kota Padang.
Tapi yang jelas, rasa lompong sagu ini sangat enak dan gurih. Proses pembuatannya dengan membakar, menjadikan makanan ini mengemban rasa yang nikmat.

Lompong sagu terbuat terbuat dari tepung sagu yang diaduk bersama pisang kepok, santen, kelapa, dan gula aren ini memiliki citarasa yang manis. Kue ini dibuat dengan cara dipanggang di atas bara hingga memiliki aroma khas sisa pemanggangan. Dalam keadaan hangat, kue ini terbungkus dalam daun pisang dan siap untuk dinikmati.

Di kawasan By Pass km 8, tepatnya di Kampung Lalang, Kota Padang, Jumat (26/2/2016) sore, kinciakincia.com mengunjungi Mira (38), salah seorang penjual lompong sagu di pinggir jalan. Mira mengaku berdagang lompong sagu sudah hampir empat tahun.

“Ini hampir memasuki tahun kelima saya jual lompong sagu. Awalnya saya kurang yakin apakah ada peminat kue yang telah agak langka ini. Tapi setahun berjalan, peminatnya makin banyak dan terus bertambah. Saya sudah punya langganan yang cukup banyak,” terang Mira sembari mengipas-ngipaskan piring plastik agar bara di tunggunya kian membesar.

Mira sedang memanggang sekitar 12 bungkus lompong sagu. Tampaknya hampir matang. Daun pisang pembalut isi lompong sagu terlihat agak gosong. Tak lama Mira mengambil 6 buah lompong sagu dari tempat pemangganganya, lalu memasukkannya ke plastik kresek.

“Dua belas ribu enam buah,” katanya kepada pembeli sambil mengembalikan uang tiga ribu rupiah.

Mira membuka dagangannya sejak pukul 11.00 siang. Ia dibantu ibu dan adiknya. “Kami tutup sekitar pukul 10.00 malam.”  

Awalnya, Mira berdagang lompong sagu di sebuah tempat berupa pondok. Tapi karena ada pelebaran jalur dua By Pass, tempat dagangannya digusur. Kini, keluarga yang mengandalkan hasil jualan lompong sagu untuk menghidupkan tungku keluarga, berjualan dengan becak motor.

Tampak tidak ideal memang menggunakan becak motor untuk menggelas. Paling tidak, untuk mencicipi lompong sagu racikan keluarga ini, agak tak nyaman karena tak ada bangku-bangku. Maka, kebanyakan pelanggan membeli lompong sagu dibawa pulang.

Mira mengaku, digusurnya tempat ia berdagang, tak mengurangi pembelinya. “Malah bertambah dan dicari-cari orang,” akunya.

Dalam sehari, tambahnya Mira, paling tidak menghabiskan 4 gantang tepung terigu. Terkadang, jika musim libur atau pada hari Minggu, bisa lebih 2 gantang mengaduk tepung terigu.  

Ia menjelaskan, adonan lompong sagu disiapkan dari rumah dan dibawa ke tempat penjualan. Adonan tersebut terdiri dari tepung sagu, kelapa parut, pisang, dan garam yang diaduk menjadi satu. Kemudian adonan dibungkus dengan daun pisang yang diberi gula aren di tengahnya.

 “Kadang ibu membuat empat gantang tepung sagu, tapi kalau laris sehari itu ibu tambah lagi 1 sampai 2 gantang,” jelasnya. Untuk mengaduk adonan, ia memercayakan pada ibunya.  

Lompong sagu tersebut dijual seharga Rp2.000/buah. Selain lompong sagu, Mira juga menjual palai bada yang dihargai Rp6.000 satu bungkus. Dalam sehari, Mira mengaku mendapatkan omzet sebesar Rp300.000–Rp400.000.

Dengan hasil penjualan tersebut ia mampu membiayai sekolah ketiga buah hatinya dan menutupi kebutuhan keluarga besarnya.

Mira berharap suatu saat ia bisa berjualan di tempat yang layak. “Harapan ibu ya bisa nanti jualannya tidak hanya lompong dan palai bada saja, tapi juga ada minumannya. Maunya kita jualan setidaknya ada warungnya gitu. Jadi pelanggan kita bisa duduk-duduk, merasa nyamanlah, kalau sekarang kan banyak debu jalanan,” harapnya.

Salah seorang pelanggan Mira bernama Ajis mengatakan, ia sering membeli lompong sagu racikan Mira ini.

“Saya suka dengan makanan seperti ini dari pada makanan yang dijual di kafe-kafe itu. Lagian makanan ini sudah mulai langka kan, makanya saya beli ini supaya anak-anak saya juga tahu bahwa ini makanan tradisional daerah kita,” paparnya.

Lalu, kita pun ingin memutar lagu klasik Minang yang populer di era tahun 60-an dibawakan Oslan Husein dan Elly Kasim sembari menikmati lompong sagu di senja yang jatuh.

Lompong sagu, lompong sagu bagulo lawang – 2x
Di tangah-tangah, di tangah-tangah karambia mudo – 2x
Sadang katuju, sadang katuju diambiak urang – 2x
Awak juo, awak juo malapeh hao – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang
Lompong sagu, lompong sagu bagulo sansai – 2x

Elok dimakan elok di makan di hari pagi – 2x
Sadang katuju, sadang katuju kawan manyemba – 2x
Awak surang, awak surang manggigik jari – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang

Urang mahetong, urang mahetong ameh babungkah – 2x
Denai mahetong, denai mahetong si parasaian – 2x

Lompong sagu (o sagu) lompong sagu
Lompong sagu (o sagu) bagulo lawang


Reporter: Suci Pujiani




Kirim ke Teman jumlah akses: 1.807 kali Model Cetak  Jadikan PDF

Berita Terkait

Sabtu, 20 Februari 2016

Ikan Lele Asap Pasaman Barat: Cicipi Sensasi Bumbunya, Selanjutnya Pesan Langsung

Ranah Minang, semua orang sudah tahu, memiliki kekayaan makanan khas dengan beragam variasi yang kreatif. Dan semuanya lezat dan pas dengan lidah siapa saja. Adalah lele asap, yang banyak dihasilkan masyarakat Pasaman Barat, secara tradisional, merupakan satu dari sekian banyak jenis makanan olahan. Lele asap berasal dari ikan lele jenis ikan air tawar yang banyak hidup di rawa-raw.....
Sabtu, 20 Februari 2016

Kuliner Sop Buntut Rendang, Menu Spesial di HW Hotel

Adalah Mulyadi, seorang Chef HW Hotel Padang, kerap memanjakan lidah tetamunya dengan masakan olahan berbasis kekayaan kuliner ranah Minang.  Ada tiga menu unggulannya di HW Hotel ini. Salah satunya terispirasi dengan kekayaan kuliner ranah Minang. Mulyadi berinovasi meracik olahan rendang yang jadi andalan utama di Satoo Restoran di Lantai 5 hotel bintang tiga ini.“Untuk me.....
Sabtu, 06 Februari 2016

Ada Udang Batang Lengayang di Balik Lezatnya Katupek Gulai Pakih Koto Baru Kambang

Koto Baru, sebuah dusun yang masuk wilayah adat Nagari Kambang, Lengayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Jaraknya lebih kurang 131 km dari Kota Padang. Jalan menuju dusun ini mulus. Apa yang unik dari dusun kecil ini? Tak lain adalah makanan khasnya. Makanan yang terkait dengan tradisi masyarakat, cukup beragam keluar dari Koto Baru ini.Pusat aktivitas perekonomian masyarakat be.....
Jumat, 05 Februari 2016

Makanan Unik Kombinasi Tradisional dan Modern

Cita rasa makanan modern memang selalu menggugah selera. Cita rasa makanan modern ditunjukkan melalui berbagai cara, mulai dari kecepatan penyajian, tampilan yang memikat serta bahan-bahan impor yang asing di telinga kita.  Padahal, faktor yang menjadi identitas dari makanan modern itu terkadang kurang bernutrisi. Terutama jika cara penyajian dan pengolahannya yang cepat atau biasa di.....
Selasa, 02 Februari 2016

Kota Payakumbuh Jadi Tuan Rumah Festival Kuliner Masakan Minang

Forum Minang Maimbau (FMM) meminta Kota Payakumbuh menjadi tuan rumah Festival Kuliner Masakan Minang (FKMM) tingkat nasional, akhir 2016 ini. Pengurus FMM  punya obsesi menjadikan masakan Minang sebagai daya tarik kunjungan wisata ke bumi Ranah Minang, Sumatera Barat ke depan. Kegiatan itu bagian dari keikutsertaan FMM dalam memajukan pengembangan kepariwisataan kampung halaman......

Kirim Informasi Untuk Teman



 


Pasang Iklan Anda
  Jual Beli
1 gr 646.000 563.000
2 gr 1.232.000 1.126.000
2,5 gr 1.520.000 1.407.500
3 gr 1.808.000 1.689.000
4 gr 2.384.000 2.252.000
5 gr 3.005.000 2.815.000
Update Tgl: 00-00-0000 pukul 00:00
Mata Uang Beli Jual
USD 13.505,00 13.525,00
EUR 15.935,00 15.970,00
SGD 9.935,00 9.975,00
JPY 119,50 119,85
AUD 10.610,00 10.645,00
Update Tgl: 19-10-2017 pukul 08:49